SERANG – Fokus Group Discussion menggelar diskusi terbatas yang mengusung tema Herman Fenandes dari perlawanan bawah tanah di Bayah hingga gugur di Yogyakarta yang menghadirkan narasumber dari tokoh pers nasional dan juga peneliti sejarah.
Thomas B Ataladjar penulis buku dan peneliti sejarah memaparkan bahwa perjuangan Herman Yosep Fernandez diawali dari Kecamatan Bayah saat menjadi pekerja pertambangan di Bayah.
“Saat bekerja di pertambangan batubara di Bayah bertemu dengan Tan Malaka dan mengumpulkan uang untuk pembiayaan pendidikan rekannya di Yogyakarta,” papar Thomas Selalu penulis Buku biografi Herman yosep Fernandez.
Diskusi terbatas yang di buka oleh kepala Diskomsantik mewakili Pj Gubernur Banten mengatakan, pers harus menyajikan berita yg benar untuk meluruskan sejarah.
Ketua Forum Masyarakat Indonesia Emas, Yohanes Handoyo Budi Sejati yang menjadi salah satu narasumber menjelaskan bangsa yang besar bangsa yang bisa menghargai sejarah.
” Kita harus menghargai orang-orang yang sudah berjuang untuk perubahan, dan kita dari masyarakat yang akan meminta kepada pemerintah untuk menganugrahi pahlawan nasional untuk Herman Fernandez,” pungkasnya.
Sementara itu ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMS) pusat Firdaus mengatakan, bahwa Banten merupakan daerah yang sangat toleransi terhadap perbedaan keyakinan, meski Banten daerah yang Islami.
“Keberadaan Herman Fernandez yang seorang misionaris tapi bisa di Terima di Banten yang dikenal sebagai daerah yang islami, ini sungguh luarbiasa dan menunjukkan bahwa Banten daerah yang toleran,” paparnya.
Sedangkan ketua PWI Pusat Zulmansah Sekedang menekankan peran pers yang diamankan dalam UU no 40 tahun 99 tentang Pers diantaranya adalah memberikan Edukasi kepada masyarakat.
“Teman-teman mari kita terus mempublikasikan perjuangan Herman Fernandez untuk menjadi pahlawan nasinal,” ungkap Zulmansah. (Wan)

