Lebak, Naratama News – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) pengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliman – Cisawarna menerjunkan 166 orang untuk menangani dan memelihara DAS Ciliman – Cisawarna.
“saya sebut mereka sebagai pasukan orange kalau istilah di pemeliharaan jalan, biar lebih gampang untuk di pahami. Mereka adalah ujung tombak (andalan) kami dalam melakukan pekerjaan pemeliharaan DAS Ciliman – Cisawarna,” kata Deni Mardiyanto, ST, MT, kepala UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cisawarna, pada Dinas PUPR Provinsi Banten,saat berbincang dengan wartawan diruang kerjanya, Senin (13/2).
Deni Mardiyanto mengakui bahwa, dalam melakukan pekerjaan, pasukan orange ini sudah berpengalaman dan bersahabat dengan medan yang sangat sulit, bahkan ke pelosok yang tidak bisa dilalui dengan kendaraan bermotor pun, pasukan orange selalu siaga.
“alhamdulilah, berkat kepiawaian teman-teman yang sudah biasa bertugas di lapangan, semua pekerjaan tertangani dengan baik, bahkan tidak jarang pasukan orange ini harus berjalan kaki puluhan kilometer dengan kondisi jalan yang kurang bersahabat,” ungkapnya.
Dalam perekrutan pasukan orange ini, kata Deni Mardiyanto, di utamakan orang yang memang pekerja keras, mengerti seluk beluk irigasi dan domisilinya harus di Daerah Irigasi (DI) yang akan di pelihara.
“contoh, kalau si petugas berdomisili sekitar DI Cilemer, mereka di rekrut untuk memelihara dan menagani DI Cilemer,” tuturnya.
Sistem penggajian pasukan orange, lanjut Deni Mardiyanto menjelaskan, bersumber dari APBD Provinsi Banten, yang setiap bulannya langsung di transfer melalui rekening masing-masing petugas atau pasukan orange.
“makanya, sebagian besar anggaran di UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cisawarna terserap untuk honor 166 orang pasukan orenge, sebagian lagi untuk belanja peralatan, seperti mesin babat rumput, sepatu bot, bronjong fan peralatan lainnya,” papar Deni Mardiyanto.
UPTD Pengelolaan DAS Ciliman – Cisawarna kata Deni Mardiyanto, senantiasa selalu menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan petani pengguna air (P3A) dan juga para kepala Desa.
“kami menagani 11 Irigasi yang kebanyakan daerah irigasi yang rawan longsor, seperti DI Cibeber dan DI Cilograng, makanya kami harus selalu bersinergi dengan para petani dan pemangku jabatan di desa, biasanya yang paling banyak di butuhkan adalah bronjong. Mohon maaf kepada rekan-rekan kalau mau telepon saya agak sulit, karena sinyal di lapangan sangat susah,” pungkasnya. (red)

